Senin, 21 Maret 2016

MAUDU' LOMPOA ATAU MAULID BESAR

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja, adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Tak terkecuali masyarakat Desa Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan besar-besaran, sesuai dengan namanya, Maudu' Lompoa atau Maulid Besar.
SEJARAH MAUDU' LOMPOA
Kehadiran tradisi Maudu’ Lompoa di Cikoang diawali dari kedatangan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid. Beliau adalah seorang ulama besar asal Aceh, cucu Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dan masih keturunan Nabi Muhammad SAW yang ke-27.
Sayyid Djalaluddin Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar pada abad 17, masa pemerintahan Sultan Alauddin. Beliau kemudian diangkat menjadi Mufti kerajaan. Putra Mahkota kerajaan Gowa oleh Sayyid Djalaluddin diberi nama Muhammad al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin.
Diberitakan bahwa Syekh Yusuf berguru kepadanya selama 3 tahun dan atas petunjuknya kemudian Syekh Yusuf diberangkatkan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari Aceh adalah naskah-naskah agama yang beliau bawa. Naskah tersebut merupakan karangan-karangan Nuruddin ar-Raniriy, yaitu Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Sampai sekarang naskah-naskah tersebut masih digunakan oleh anak keturunan beliau di Cikoang dan telah disalin berulang-ulang.
Dalam mengajarkan Islam di Sulawesi Selatan, Sayyid Djalaluddin Al’ Aidid mengajarkan tiga hal penting yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya upacara Maudu’ Lompoa, yaitu prinsip al-ma’rifah, al-iman dan al-mahabbah. Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah SWT terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Cikoang mengenal dua proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia).
Sebagai upaya untuk menyinambungkan ikatan pada dua konsepsi dasar kelahiran Nabi, prosesi peringatan maulid menjadi sesuatu yang amat sakral. Masyarakat Takalar, khususnya keturunan Sayyid, meyakini sepenuhnya kelahiran Rasulullah SAW merupakan isyarat kemenangan, dan harus diwujudkan dalam penguatan ikatan cinta melalui maudu’ lompoa, kepada hazrat suci Nabi Pendaratan Sayyid Djalaluddin Di Cikoang.
Peringatan Maudu' Lompoa berdasarkan tiga faktor keyakinan dan keikhlasan. Ketiga faktor itu, yaitu, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kejadian di alam Nur, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW keadaan di alam rahim, dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kelahiran di alam dunia.
Perayaan Maudu Lompoa di Cikoang sendiri, sudah berlangsung sejak tahun 1632 Masehi. Setiap keturunan Sayyid tiap tahunnya berusaha mengadakan perayaan yang kini menjadi agenda pariwisata Sulawesi Selatan itu.
PERSIAPAN MAUDU' LOMPOA


Ada beberapa rangkaian acara yang harus dilakukan bagi mereka yang ikut dalam Maudu’ Lompoa ini. Persiapan diawali dengan menyediakan ayam, beras, minyak kelapa, telur, julung-julung (perahu), kandawari, bembengan, panggung upacara dan lapangan upacara.
Ayam yang akan digunakan dalam tradisi ini juga sudah harus dikebiri selama sebulan sebelum 12 Rabiul Awal atau sekitar tanggal 10 Shafar. Ayam-ayam itu dikurung agar tidak lagi makan dari berbagai barang najis.
Orang-orang juga setidaknya harus memiliki satu ekor ayam yang sehat. Ayam tersebut baru akan disembelih pada masa perayaan Maudu’ Lompoa. Ayam-ayam itu pun tidak boleh disembelih oleh orang sembarangan, harus disembelih oleh anrongguru (tokoh dari keluarga Sayyid) yang memimpin prosesi upacara tersebut.
Selain ayam, beras yang digunakan dalam semua prosesi Maudu’ juga harus diproses sendiri, yaitu ditumbuk pada lesung yang sudah dibersihkan. Lesung itu harus dipagari dan tidak boleh rapat ke tanah.
Orang yang menumbuk juga tidak boleh menaikkan kakinya di atas lesung. Sedang padi yang ditumbuk harus dijaga baik-baik, tidak boleh sebiji pun jatuh ke tanah. Ampasnya harus dikumpul baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesainya dibaca Surat Rate’ (Kitab Maudu’).Kitab tersebut menceritakan kelahiran Nabi sampai riwayat datangnya Islam yang dibawa oleh Sayyid Jalaluddin.
Prosesi penyediaan beras tidak sampai disitu saja. Karena setiap orang hanya bisa memiliki 4 liter yang bermakna bahwa setiap manusia terdiri atas empat segi atau kejadian manusia terdiri dari 4 asal, yaitu tanah, air, angin dan api.
Bakul yang digunakan terbuat dari daun lontar yang berukuran minimal untuk 4 liter beras dan 1 ekor ayam untuk satu orang. Ukuran bakul bertingkat-tingkat sesuai banyaknya jumlah keluarga atau pengikut. Jadi semakin banyak maka akan kelihatan jumlah keluarganya.
Selain ayam dan beras, minyak kepala yang digunakan juga harus dibuat sendiri dan hanya bisa digunakan khusus untuk acara tersebut. Kecuali bila upacaranya telah selesai.
Hampir setiap detail dalam tradisi ini memiliki aturan yang sakral. Contoh lainnya adalah tempurung kelapa yang digunakan untuk berbagai keperluan, tidak boleh yang sudah tertimbun di tanah agar tidak terkena najis.
Telur yang digunakan juga harus direbus terlebih dahulu lalu ditusuk pada ujung bambu yang sudah dipecah-belah kecil dan runcing lalu ditancapkan di atas bakul.
Prosesi akhirnya akan bermuara pada pembuatan julung-julung (perahu) dari bambu atau kayu dengan dua buah tiang layar, penuh dengan kain yang berwarna-warni sebagai layar dan bendera.
Julung-julung ini merupakan simbol datangnya ajaran kebenaran dari Nabi yang dibawa oleh Sayyid Djalaluddin.
Perahu itu pun harus bertiang empat yang agak tinggi sehingga bentuknya mirip dengan panggung. Pada bagian belakang perahu itu biasanya ditempeli uang kertas Rp 5.000,- atau Rp 10.000,-.
Bagi keluarga yang mampu secara finansial pun diwajibkan membuat satu perahu, sedang keluarga yang kurang mampu biasanya berkelompok dengan beberapa keluarga lain untuk membuat satu perahu.
Sedangkan kandawari, burung merak dan bembengan dibuat berbentuk segi empat dan bertiang empat kemudian ditempatkan di darat saja.
Selain itu, dibuat juga sebuah panggung kayu yang dipasangi tenda. Di atas panggung inilah dilaksanakan inti acara Maudu’ Lompoa, yaitu zikkiri’ (berisi syair-syair pujaan kepada Rasulullah SAW).
Pada dasarnya ada dua tahap pelaksanaan upacara Maudu’ Lompoa, yakni:
  1. Ammone baku’ (mengisi bakul). Proses ini hanya boleh dilakukan oleh perempuan yang suci dari hadas dan najis (selalu berwudhu). Isi bakulnya sendiri adalah nasi setengah masak, ayam yang dibungkus daun pisang lalu ditutup dengan daun pisang atau daun kelapa muda. Telur-telur yang sudah ditusuk dengan bambu juga ditancapkan di atas nasi (bakul)/
  2. Ammode baku’ (menghiasi bakul). Pada tahap ini bakul yang sudah diisi kemudian dihias dengan bermacam-macam warna dari dari berbagai hiasan berharga. Hiasan-hiasan ini menjadi ukuran tingkat kemampuan sosial pemiliknya. Karena itulah, sebagian orang biasanya menjual sesuatu untuk memperoleh biaya memperbesar kanre maudu (nasi Maulid).
Setelah melakukan persiapan yang panjang, Maudu’ Lompoa pun akhirnya bisa dilaksanakan. Berikut lima tahapan-tahapan pelaksanaan Maudu’ Lompoa :
  1. Angngantara’ kanre Maudu (mengantar persiapan Maulid) Lokasi maudu’ adalah di tepi Sungai Cikoang. Pada pagi hari tanggal 29 Rabiul Awal setiap tahun segala persiapan dan peralatan diantar ke sana oleh masing-masing pemiliknya dengan doa tersendiri.
  2. Pannarimang kanre Maudu (penerimaan nasi Maulid) Penerimaan ini dilakukan oleh guru yang memimpin upacara itu, dengan membakar dupa dan duduk bersila menghadap kiblat sambil membaca doa agar persembahannya itu diterima dan menyenangkan Rasulullah SAW.
  3. Rate’ (pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya) A’rate’ (inti acara) artinya membaca kisah atau syair-syair pujian terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama tersendiri yang amat khas dan menyentuh hati. Acara ini biasanya berlangsung sekitar dua jam. Kitab Rate’ ini merupakan karya besar Sayyid Djalaluddin Al`Aidid dan menjadi inti ajaran-ajarannya dalam tarekat “Nur Muhammad”. Setelah berakhirnya acara ini, maka selesailah inti acara maudu’.
  4. Pattoanang (Istirahat) Yaitu jamuan undangan yang disediakan sesudah selesai upacara inti. Jamuan yang dihidangkan dibuat sendiri oleh penyelenggara acara tersebut dan para undangan/peserta dapat menikmati makanan dan minuman dengan ramah. Pelaksana acara merasa lega karena telah melaksanakan pengabdian yang sangat berat tapi mulia kepada Nabi Muhammad SAW.
  5. Pambageang Kanre Maudu’ (Pembagian Nasi Maulud) Setelah semua acara berlangsung, maka para tamu yang akan bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing dibagikan makanan (kanre maudu’) sebagai berkah dari hadrat Nabi oleh penyelenggara, menurut tingkatan sosial di dalam masyarakat.
Upacara Maudu’ Lompoa mempunyai kesan dan pengaruh batin yang luar biasa bagi masyarakat Takalar. Ketika acara berlangsung, tidak seorang pun yang boleh bubar meski di tengah sengatan terik matahari atau guyuran hujan, kecuali pengunjung dari luar.
Mereka menganggap panas matahari atau hujan adalah rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, orang-orang yang lari berarti lari dari rahmat Allah. Di samping itu, anggota masyarakat setempat menjadikan tradisi itu sebagai tujuan dari aktifitas hidupnya.
076e6a_0936feb376b14b3990c646531899005c.jpg

076e6a_5752f51ac91f4553ad9426723cdef79b.jpg
Itulah sekilah tentang Maudu' Lompoa atau Maulid Besar yang diadakan tiap tahun di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Jika anda ingi mengetahui lebih lanjut tentang Maudu' Lompoa, kunjungi link yang sudah tertera di bawah ini, atau bisa langsung mengunjungi tempat perayaan Maudu' Lompoa, Desa Cikoang.
Selamat membaca!

REFERENSI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar